RANCANG BANGUN VENTILATOR KINCIR ANGIN DENGAN METODE ONE-WAY SEBAGAI POTENSI PENGHASIL ENERGI LISTRIK PADA DAERAH TERTINGGAL DI KALIMANTAN TENGAH


RANCANG BANGUN VENTILATOR KINCIR ANGIN DENGAN METODE ONE-WAY SEBAGAI  POTENSI  PENGHASIL  ENERGI  LISTRIK  PADA  DAERAH TERTINGGAL DI KALIMANTAN TENGAH
Suhartono, Fachrudin A.,Sigit Suryono, Sri fatmawati 
Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah (a) membuat rancangan model kincir angin untuk menggerakkan ventilator turbin sehingg mampu   menghasilka kecepatan   turbin yang cukup untuk menghasilkan listrik dengan kecepatan angin minimum di daerah Kalimantan Tengah; (b) menentukan besar energi listrik yang dihasilkan oleh seperangkat  pembangkit listrik tenaga angin dengan memanfaatkan ventilator; (c) menentukan   hubungan    kecepatan    angin    terhadap    daya    output    dari pembangkit listrik tenaga angin tersebut.  Prototype Ventilator Kincir Angin yang di modifikasi dalam penelitian ini berbentuk rangka seperti bola dan  lebih elips pada bagian pinggirnya,  rangka-rangkanya terbuat dari bilah lembaran alumuniun dan batangan besi padat di dalamnya. Pelaksanaan uji coba lapangan dilakukan pada bulan pertengahan Desember dan lokasi pengujian di tiga lokasi yaitu di halaman Laboratorium Terpadu IAIN Palangka Raya, Pantai Ujung Pandaran dan Sungai Bakau. Kelas angin yang terjadi saat pengujian alat di lokasi menggunakan anemometer digital berkisar kelas angin 2 hingga 5 dengan kecepatan 5,5 Km/jam hingga 38,5 Km/jam bahkan dapat mencapai kecepatan lebih dari 40 Km/jam. Hasil simulasi laboratorium bahwa kincir angin dapat menghasilkan daya dalam satuan mili Watt. Hal ini masih disebabkan faktor generator dan putaran yang masih belum maksimal dalam pengembangannya

Kata Kunci: Prototype Ventilator Kincir Angin, energi  listrik 



A.                              PENDAHULUAN

Sumber energi primer pada pembangkit listrik milik PLN (PLTU, PLTD,  PLTG,  PLTGU merupakan  jenis energi  tidak  terbaruka (batubara, minyak  dan  gas bumi)  yang jumlahnya  kian  menipis,  hal ini mendorong  untuk berpaling dan melakukan  penelitian  secara  lebih  intensif,  terarah  pada  energi alternatif  yang cukup tersedia di bumi ini yang dapat diharapkan keberlanjutannya.  Energi  terbarukan merupakan suatu pilihan  tepat  yang sesuai  dengan potensi   alam persada nusantara yang  diuntungka oleh  letak dan  kondisi  geografisnya.   Yang  termasuk  golongan  energi  terbarukan  adalah energi matahari, angin, air, biomasa, dan panas bumi (Tumiran, 2002).

Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTAn) merupakan suatu pembangkit  tenaga listrik berskala kecil dengan memanfatkan  sumber tenaga angin sebagai    sumber energi  utamanya.  Pengembangan    PLTAn    sangat   cocok untuk daera terpencil  atau pedesaan   yang   pada   umumny masih   banyak terdapat sumbe daya angin teristimewa daerah dataran tinggi dan pantai. Namun upaya  pengembangan  PLTAn  ini  juga  memiliki  hambatan karena   biaya  yang  diperlukan  untuk  membangun  sebuah  PLTAn  masih  lebih besar  dibanding  Pembangkit   Listrik  Tenaga  Diesel  (PLTD)  (Perdana  Putra, 2004). Walaupun demikian, untuk jangka panjang operasional  PLTAn   akan lebih murah,  karena   sumber energinya tidak perlu membeli, hanya perlu pemeliharaan secara kontinuitas. Kalimatan Tengah memiliki daerah geografis berupa dataran tinggi dan pantai yang cocok untuk pengembangan PLTAn ini yang memiliki karekteristik kecepatan angin pada setiap daerahnya.
Alat utama yang terdapat pada pembangkit listrik tenaga angin adalah turbin/ kincir. Angin yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin/kincir yang akan diteruskan pada generator. Salah satu komponen utama pada generator adalah motor induksi. Kinerja  motor induksi  dapat dilihat  dari berbagai  aspek seperti  hubungan antara daya output dengan putaran rotor, efisiensi, faktor daya, dan arus masukan motor (Zuriman,  A,  2001). Penggunaan motor induksi sebagai generator   memiliki beberapa keunggulan, antara lain harga dan biaya perawatannya jauh lebih murah dibanding  jenis mesin sinkron, konstruksinya kuat dan bentuk yang sederhana,  banyak tersedia  dalam  berbagai  ukuran  daya,  memerlukan   sedikit pemeliharaan  dan mudah dalam pengoperasian (Capallaz, 1992).


Lembaga    Penerbangan    dan    Antariksa    Nasional    (LAPAN)    telah mengembangkan  teknologi  turbin  angin  ini  sejak  tahun  1981,  namun  masih terfokus  kepada  alternatif  penerangan  dalam  membantu  pemenuhan  kebutuhan listrik   Nasional   dari   PLN.   Sementara   itu,   pengembanga dari   kincir   angin mekanik  untuk  aplikasi  pembangkit  listrik  rumah  tangga  masih  sangat  jarang ditemui.
Dari hal  diatas,  tim  peneliti IAIN Palangka Raya Prodi Tadris Fisika melakukan  perancangan ventilator kincir angin dengan metode one-way sebagai  potensi  penghasil  energi  listrik  pada  daerah tertinggal di Kalimantan Tengah.

B.                               Tujuan dari perancangan

Secara umum:
1.       Membuat rancangan model kincir angin untuk menggerakkan ventilator turbin sehingg mampu   menghasilka kecepatan   turbin yang cukup untuk menghasilkan listrik dengan kecepatan angin minimum di daerah Kalimantan Tengah.
2.      Bagaimana  uji  coba  terhadap  model  kincir  angin  dengan  menggunakan kecepatan angin yang sesuai dengan angin di daerah Kalimantan Tengah?
3.      Menentukan   hubungan    kecepatan    angin    terhadap    daya    output    dari pembangkit listrik tenaga angin tersebut.
Secara khusus:
1.      Sebagai sarana pengaplikasian ilmu terapan di Program Studi Tadris Fisika FTIK IAIN Palangka Raya yang diharapkan dapat di contoh dan dikembangkan serta disempurnakan oleh lulusan Tadris Fisika FTIK IAIN Palangka Raya selanjutnya.
2.      Hasil rancangan yang nanti telah dikembangkan dapat digunakan dalam pembelajaran di beberapa mata kuliah Program Studi Tadris Fisika FTIK IAIN Palangka Raya seperti Listrik Magnet, Lab Fis, Elektronika dan lainnya.




C.  Energi Angin

Daerah sekitar khatulistiwa, yaitu pada busur 0°, adalah daerah yang mengalami pemanasan lebih banyak dari matahari dibanding daerah lainnya di Bumi. Udara  pana lebih   ringa daripada  udara dingin  dan  akan  naik  ke  atas  sampai  mencapai  ketinggian  sekitar  10  kilometer dan akan tersebar kearah utara dan selatan. Jika bumi tidak berotasi pada sumbunya, maka udara akan tiba dikutub utara dan kutub selatan, turun ke permukaan lalu kembali ke khatulistiwa. Udara yang  bergerak inilah yang  merupakan energi yang dapat diperbaharui, yang dapat digunakan  untuk  memutar  turbin  daakhirnya  menghasilkan listrik. Untuk dapat menghasilkan energi listrik diperlukan kecepatan minimal untuk menggerakan kincir angin, kecepatan angin terbagi beberapa kelas.

Tabel 1 Kelas Angin


Data kondisi angin di Provinsi Kalimantan Tengah tertanggal 27 August 2015 07.00 WIB hingga 28 August 2015 07.00 WIB di 14 Kabupaten ditunjukkan pada tabel 2.
    
Tabel 2 Kondisi Angin di Provinsi Kalimantan Tengah
Ibukota Kabupaten
Cuaca
Suhu
(°C)
Kelembaban
(%)
Kec.
Angin
(km/jam)
Arah
Angin
Pangkalan Bun
Berawan
21 - 33
60 - 98
16
Timur
Sampit
Berawan
23 - 34
50 - 98
14
Tenggara
Kuala Kapuas
Berawan
23 - 34
50 - 95
16
Tenggara
Buntok
Berawan
24 - 34
50 - 97
16
Barat Daya
Muarateweh
Berawan
21 - 34
50 - 95
12
Barat Daya
Kasongan
Berawan
23 - 34
50 - 98
16
Tenggara
Kuala Pembuang
Berawan
23 - 34
50 - 98
14
Tenggara
Sukamara
Berawan
21 - 33
55 - 97
16
Timur
Nanga Bulik
Berawan
21 - 33
55 - 97
16
Timur
Kuala Kurun
Berawan
23 - 34
50 - 98
14
Tenggara
Pulangpisau
Berawan
23 - 34
50 - 95
16
Tenggara
Puruk Cahu
Berawan
21 - 34
50 - 95
12
Barat Daya
Tamiang Layang
Berawan
22 - 33
50 - 97
16
Barat Daya
Palangkaraya
Berawan
23 - 34
50 - 98
16
Tenggara
Sumber: http://meteo.bmkg.go.id/

D.                          Turbin Angin Sumbu Vertikal

Turbin  angin sumbu  vertikal/tegak memiliki poros/sumbu rotor utama yang disusun tegak lurus seperti Gambar 1. Kelebihan utama  susunan  ini  adalah  turbin  tidak  harus  diarahkan  ke  angin  agar  menjadi efektif. Kelebihan ini sangat berguna di tempat-tempat yang arah anginnya sangat bervariasi.

Gambar 1. Turbin angin sumbu vertical


E.       Metode Perancangan

Skema flowchart perancangan model kincir angin dapat dilihat pada gambar 2. berikut ini

Perakitan/Pengaturan Model
1. letak blade
2. rangka

3. kipas angin
4. Jumlah Blade

5.pemasangan dinamo/generator


Pelaksanaan pengujian

Pembuatan Rancangan Model

Studi Pendahuluan

Variabel Penelitian: Variasi Kecepatan Angin



Penghitungan data daya yang dihasilkan



Analisis Data

Kesimpulan

Uji Coba Lapangan

Simulasi Lab
 



































Gambar 2. Skema flowchart


G. Alat Penunjang
Generator  adalah  peralatan  elektronika  mekanik  yang  mengubah  besaran energi  mekanik  menjadi  energi  listrik  arus  bolak-balik.  Kebanyakan  Generator menggunakan  rotating  magnetic  field,  akan  tetapi  adakalanya  alternator  linear digunakan. Pada prinsipnya, setiap generator AC dapat disebut sebagai alternator, akan  tetapi  istilah  tersebut  sering  disama  artikan  dengan  mesin  putaran    kecil yang  dikendalikan  oleh  automotif  atau  mesin  pembakaran internal. Salah satu contoh,  alternator  digunakan  sebagai  mesin  pembangkit  listrik  arus  bolak-balik dengan tenaga turbin uap yang sering dikenal sebagai turbo-alternator.
Generator  menimbulkan  listrik  sama  prinsipnya  dengan  generator  DC, yaitu  saat  medan  magnet  di  sekitar  konduktor  berubah,  timbul  arus  didalam konduktor.  Magnet  yang  berputar  yang  disebut  juga  sebagai  rotor  berputar  di dalam  suatu  rangkaian  tetap  konduktor  yang  terbuat  dari  inti  besi  berkumparan (inti   besi   yang dililiti   ole konduktor) yang disebut   denga stator Medan magnet terpotong secara tepat oleh konduktor, menimbulkan arus listrik, dan yang menyebabkan  rotor  berputar  yaitu  berupa  masukan  mekanik.  Medan  magnet berputar menginduksi tegangan AC pada lilitan stator. Seringkali terdapat delapan buah lilitan stator. Medan magnet berputar dapat dihasilkan melalui induksi (pada alternator  tanpa  sikat),  melalui  magnet  permanen  (pada  mesin  yang  berukuran kecil).  Medan  magnet  berputar  barangkali  dapat  dihasilkan  pula  melalui  medan lilitan  tetap  dengan  kutub  yang  berputar  pada  rotornya..  Mesin  dengan  magnet permanen  mencegah  kehilangan  daya  ketika  arus  mengalir  pada  rotor  untuk menghasilkan  medan  magnet,  akan  tetapi  penggunaan  magnet  tersebut  terbatasi pada ukuran, dan berdasarkan pada biaya material   magnet. Sejak medan magnet permanen konstan, terminal tegangan bervariasi langsung terhadap kecepatan dari generator. Generator   A tanpa   sika merupaka mesin   yang   besar   jika dibandingkan dengan mesin berputar yang digunakan pada umumnya.


H. Lokasi Pengujian
Lokasi pengujian  di wilayah Kalimantan tengah,   pada  bulan  Agustus – Nopember 2015.

I.              Metode Pengumpulan Data
Dalam  rancang  bangun ventilator turbin ini ditetapkan suatu variabel  penelitian,  sebab  suatu  variabel  penelitian  merupakan  parameter  utama yang  mempengaruhi  hasil  penelitian  yang  akan  dicapai.  Pada  Penelitian  ini ditetapkan 2 variabel yaitu sebagai berikut:
1.  Variabel Bebas
Sesuai  dengan  tujuan  penelitian  yang  akan  dicapai,  maka  variabel  bebayang akan digunakan dalam penelitian ini adalah perubahan kecepatan angin yang  akan  diukur  dengan  anemometer.
2. Variabel Terikat
Variabel  bebayang akan digunakan dalam penelitian ini adalah perubahan kecepata putara turbin angin yang  akan  diukur  dengan  Timer Counter  dan  tegangan serta  aruyang dihasilkan.
2.  Variabel Kendali
Untuk  variabel  kendali  digunakan  lampu  led 5  Watt.





J. HASIL DAN PEMBAHASAN

Prototype yang di modifikasi dalam penelitian ini berbentuk rangka awalnya seperti bola dengan bentuk lebih elips pada bagian pinggirnya, rangka rangka terbuat dari bilah lembaran alumuniun dan batangan besi padat di dalamnya. Dapat dilihat pada gambar 4. di bawah ini:
Gambar 3. Bentuk Ventilator Kincir Angin Awal (standart)

Tabel 3. Dimensi dan spesifikasi ventilator kincir angin
Elemen
Dimensi
Spesifikasi
Sudu
Diameter = 80 cm
Jumlah sudu kecil 34 lembar
Lembaran alumunium bergelombang
Poros kincir
Panjang = 46 cm
Besi campuran
Penyangga kincir
Diameter = 60 cm
Aluminium dan besi batangan dibulatkan ketebalan 3 mm
Plat penahan sudu
Diameter = 46 cm
Aluminium dengan ketebalan 1 mm
Penahan poros turbin
Diameter = 3.5 cm
Besi berlubang
Bearing
Diameter = 3 cm
Baja
Baling-baling ventilator dalam
Panjang = 25 cm
Alumunium ketebalan 0.5 mm
Penahan turbin
Diameter atas = 60 cm
Diameter bawah = 75cm
Aluminium ketebalan 0.5 mm

Selain memodifikasi kaki-kaki dan dudukan ventilator, beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya putaran turbin ventilator, yaitu besarnya debit ventilasi yang mengalir pada ventilator dan besarnya kecepatan udara yang mengalir menuju ventilator, sehingga melakukan modifikasi dengan penambahan baling baling  ventilator dalam yang tujuannya untuk mendapatkan debit ventilasi dan putaran ventilator yang besar Lai, C.M. (2003).


Menurut pertimbangan di atas dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, Lai, C.M. (2003), maka penelitian ini difokuskan untuk melakukan modifikasi penambahan panjang dan diameter dengan menambahkan sudu pada ventilator. Modifikasi penambahan panjang sudu dan diameter ventilator dimaksudkan agar memperoleh debit angin yang besar pada ventilator, karena dengan semakin bertambahnya panjang sudu dan diameter ventilator, maka terjadi penurunan tekanan didalam ventilator, sehingga menimbulkan perbedaan tekanan yang semakin besar antara udara yang memasuki inlet ventilator dan udara pada outlet ventilator. Perbedaan tekanan ini akan menimbulkan terjadinya perbedaan energi yang semakin besar antara udara yang memasuki inlet ventilator dan udara pada outlet ventilator, sehingga akan menghasilkan debit yang semakin besar pada outlet ventilator.
Dengan semakin bertambahnya debit pada outlet ventilator, maka akan dihasilkan hasil kerja turbin ventilator yang lebih besar, sehingga akan mempengaruhi besarnya daya (keluaran generator) yang dihasilkan sebagai potensi pembangkit listrik. Gambar 5. dibawah ini menunjukkan  Pemasangan  turbin yang telah ditambah 8 sudu besar dengan lebar 27 cm  pada penahan/dudukan turbin.

Gambar 4. Pemasangan  turbin yang telah ditambah 8 sudu besar dengan lebar 27 cm  pada penahan/dudukan turbin

K. Uji Coba Lapangan Model Kincir Angin

Pelaksanaan uji coba lapangan dilakukan pada bulan pertengahan Desember Daerah perkotaan diambil lokasi di halaman Laboratorium Terpadu IAIN Palangka Raya dan Daerah pantai yaitu: ujung pandaran dan sungai bakau, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Kondisi kecepatan angin tidak terlalu memiliki perbedaan jauh, baik di Ujung pandaran dan Pantai Bakau.  Untuk dilokasi Palangkaraya kodisi tiupan angin tidak sesering di daerah pantai, kelas angin yang terjadi saat pengujian alat di lokasi menggunakan anemometer digital berkisar kelas angin 2 hingga 5 dengan kecepatan 5,5 Km/jam hingga 38,5 Km/jam bahkan dapat mencapai kecepatan lebih dari 40 Km/jam, ciri angin yang bertiup selalu berubah-ubah kecepatannya, dan di saat siang hari hingga menjelang sore pukul pukul 10.00 wib hingga 16.00 WIB angin efektif  bertiup terus-menerus dengan variasi kecepatan yang tidak tetap. Pada saat malam angin berada di kisaran di bawah 5,5 Km/jam, yang dilakukan dalam pengujicobaan ventilator kincir angin diletakan di pinggir pantai  lokasi ujung pandaran. Dari pengukuran anemometer digital kincir angin mulai berputar dengan generator tanpa beban pada kecepatan kisaran 1,3 km/jam.

Gambar 6. Pengujian Lapangan pada Ventilator Kincir Angin di Pinggir  Pantai Lokasi Ujung Pandaran.

L. Hubungan Kecepatan Angin Terhadap Daya Yang Dihasilkan
Dalam pengujian data kecepatan angin terhadap daya output yang dihasilkan percobaan dilakukan dengan simulasi menggunakan sumber angin buatan yaitu berupa kipas angin yang dapat di variasikan kecepatannya menggunakan pengubah tegangan inputnya, tiupan angin yang di berikan pada kincir hanya pada satu sisi bagian putarnya saja, data output keluarannya sangat tergantung dari kemampuan generator pengubah daya, data yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4. di bawah ini:



Tabel 4. Hubungan Kecepatan Angin Terhadap Daya
No
Kecepatan angin (Km/Jam)
Arus (mA)
Tegangan (V)
Daya(mWatt)
1
6.12
0.57
2.57
1.46
2
8.37
2.55
3.27
8.34
3
8.94
3.09
3.07
9.49
4
9.81
3.61
2.85
10.29
5
10.52
4.09
2.89
11.82
6
11.57
4.36
2.92
12.73
7
12.40
4.50
2.90
13.05
8
13.30
5.10
3.00
15.30

Dari hasil tabel di atas sumber angin buatan mempunyai keterbatasan, yaitu hanya mampu menghasilkan kecepatan maksimum pengujian dibawah 14 Km/jam, sedangkan sebagai indikator yang terlihat pada simulasi generator digunakan beberapa lampu led yang dapat menyala saat generator mulai berputar pada kecepatan angin di atas 3 Km/jam.
Dari Tabel 4. (data penelitian) diatas dapat di buat grafik hubungan kecepatan terhadap daya outputnya yang ditunjukkan pada gambar 7. di bawah ini:
 

















Gambar 7. Hasil pengujian simulasi laboratorium (kecepatan angin terhadap daya output generator)

Dari gambar di atas daya output akan selalu meningkat berdasarkan peningkatan kecepatan angin yang menggerakan kincir, dan dapat juga dilihat pada tabel 4.2 peningkatan kecepatan angin menghasilkan kenaikan signifikan pada arus keluarannya secara bertahap.

M. Sistem Pengisian (charging system)

Sistem pengisian pada accumulator (aki) merupakan sistem yang mempunyai fungsi menyediakan atau menghasilkan arus listrik yang nantinya dimanfaatkan untuk mengisi ulang arus pada aki. Aki merupakan sumber listrik arus searah. Muatan listrik baterai akan berkurang bahkan habis apabila penggunaanya secara berlebihan. Dengan demikian agar baterai selalu siap pakai dalam arti muatannya selalu penuh, maka harus ada suatu sistem yang dapat mengisi ulang muatan. Sistem pengisian inilah yang mempunyai fungsi tersebut. Sistem pengisian bekerja apabila ventilator dalam keadaan berputar. Selama ventilator berputar sistem pengisian yang akan menyuplai arus listrik bagi semua komponen kelistrikan yang ada. Dengan demikian baterai akan selalu penuh muatan listriknya. Arus yang dihasilkan oleh sistem pengisian adalah arus bolak balik. Pada sistem ini nanti dioda akan berfungsi menyearahkan arus bolak-balik dari generator menuju ke sistem pengisian pada aki. Pada penggunaan listrik rumah tangga nantinya arus DC dari aki akan di ubah menjadi 220V menggunakan inverter.
 















Gambar 3.14 (b)









Gambar 8.  Pengujian simulasi skala laboratorium (menghitung kecepatan angin terhadap daya output generator)

N. Kesimpulan dan Saran

1.                            Kesimpulan
Dari hasil pengujian lapangan yang telah dilakukan di pantai ujung pandaran dan sungai bakau pada bulan pertengahan Desember saat musim penghujan kondisi angin yang terukur berkisar 5,5 Km/jam hingga 38,5 Km/jam yang bertiup pada siang hingga menjelang sore hari, saat malam harinya angin hanya bertiup dengan kisaran dibawah 5,5 Km/jam, uji coba alat kincir angin yang dikembangkan mulai berputar dengan generator tanpa beban pada kecepatan kisaran 1,3 km/jam, dan dari hasil simulasi lab bahwa kincir angin dapat menghasilkan daya dalam satuan mWatt, hal ini masih disebabkan faktor generator dan putaran yang masih belum maksimal dalam pengembangannya.

2.                            Saran
Dari pengujian lapangan dan simulasi laboratorium di temukan beberapa kelemahan yaitu: putaran kincir yang masih belum maksimal, sehingga untuk penelitian selanjutnya sebaiknya dengan cara menambahkan lengan atau diameter ventilator yang nantinya akan memperbesar momen/torsi dan semestinya membuat putaran kincir lebih ringan ketika menggunakan diameter ventilator yang lebih besar. Selain itu generator pengubah energi putaran menjadi energi listrik yang perlu lebih dikembangkan menjadi generator yang lebih ringan dan bisa menghasilkan daya/keluaran yang besar, serta perlu lebih banyak data kecepatan angin setiap musim dan bulan dalam setahun di setiap lokasi daerah di Kalimantan tengah yang memiliki potensi digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga angin.





















DAFTAR PUSTAKA
                                                                                                          
Anthony Z,  2001,   Kinerja   Pengoperasian    Motor   Induksi   3  Fase pada  Sistem  1 Fase dengan  Menggunakan  KapasitorI,  Tesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Chapallaz,    J.M.    1992,    Manual    on    induction    Motors    Used    as Generators,     Deutches Zentrum  fur  Entwicklungs technologien- GATE Braunschweig, Germany
Lai, C.M, 2003, Experiments on the ventilation efficiency of turbine ventilators used for building and factory ventilation, Energy and Buildings, 35, pp.927-93
Perdana IK,  2004,  Penggunaan   Kapasitor   untuk  Perbaikan   Unjuk Kerja   Motor  Induksi  Sebagai Generator, Tesis, Universitas  Gadjah Mada, Yogyakarta
Tumiran, 2002,  Kualitas  Energi  Listrik  Menyongsong   Pembahasan RUU   Ketenagalistrikan Majalah   Energi,   Edisi   16   (Juni- Agustus 2002), Pusat Studi Energi UGM, Yogakarta








Penulis : Suhartono zeon palangkaraya

Program Studi Tadris Fisika merupakan salah satu program studi di lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya, yang memiliki visi Unggul dan Kompetitif dalam Pengembangan Pendidikan Fisika yang Berkarakter.

Kontributor: Suhartono zeon palangkaraya - 09.21

Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Prodi Tadris Fisika Fakultas Tabiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palangka Raya

Designed by Templatezy & Copy Blogger Themes